
Dalam rangka memperkaya pemahaman tentang diplomasi budaya, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman Samarinda, melakukan kunjungan akademik ke Galeri R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta. Kunjungan ini berlangsung di tengah persiapan pameran bertajuk “Lanskap”, sebuah tema yang mengangkat keterkaitan antara lukisan-lukisan pemandangan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dengan konteks kolonialisme.
Melalui kunjungan ini, para mahasiswa diajak untuk melihat seni rupa tidak hanya sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai medium yang sarat dengan nilai historis dan politik. Lukisan lanskap, yang pada masa kolonial sering digunakan untuk merepresentasikan keindahan alam Hindia Belanda, ternyata menyimpan narasi yang lebih kompleks—termasuk bagaimana visual tersebut berperan dalam membangun citra kolonial di mata dunia.
Pameran “Lanskap” menjadi titik masuk yang relevan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana karya seni dapat berfungsi sebagai alat diplomasi budaya. Seni rupa, dalam hal ini, tidak hanya menjadi representasi identitas, tetapi juga medium komunikasi lintas budaya yang mampu menyampaikan pesan, nilai, dan perspektif suatu bangsa.
Interaksi langsung dengan ruang galeri serta proses persiapan pameran memberikan pengalaman kontekstual yang memperkaya pembelajaran mahasiswa. Mereka tidak hanya memperoleh wawasan teoritis, tetapi juga melihat bagaimana praktik kuratorial dan presentasi karya seni dapat membentuk narasi tertentu di ruang publik.
Kunjungan ini diharapkan dapat mempertebal perbekalan pengetahuan mahasiswa dalam memahami diplomasi budaya melalui kesenian, sekaligus membuka perspektif baru tentang peran strategis seni rupa dalam hubungan internasional.
Melalui kegiatan ini, seni rupa kembali ditegaskan sebagai medium yang melampaui batas estetika semata. Ia hadir sebagai ruang dialog—menghubungkan sejarah, budaya, dan politik dalam satu kesatuan yang utuh, serta menjadi jembatan penting dalam praktik diplomasi budaya di era kontemporer.

Leave a Reply