
Perjalanan seni tidak pernah berjalan dalam satu arah yang sama. Setiap seniman tumbuh melalui pengalaman, tantangan, dan pilihan yang berbeda. Gagasan inilah yang menjadi fondasi pameran kelompok Benih 2018 Group Exhibition bertajuk “Tegur Sapa,” sebuah pameran yang menghadirkan pertemuan kembali para perupa setelah tujuh tahun perjalanan sejak awal kebersamaan mereka.
Diselenggarakan di Galeri R.J. Katamsi, pameran berlangsung pada 10–24 Januari 2026 dan menjadi momentum reflektif sekaligus emosional bagi para seniman yang pernah dipersatukan dalam angkatan 2018 yang dikenal sebagai “Benih.”
Dari Titik Awal yang Sama, Menuju Arah yang Berbeda
Nama “Benih” menjadi simbol awal perjalanan — sebuah fase ketika para seniman memulai proses belajar, bertumbuh, dan membangun identitas artistik masing-masing. Setelah tujuh tahun berlalu, perjalanan tersebut berkembang secara individual. Setiap seniman menghadapi dinamika kreatif yang unik, dengan rintangan serta pencapaian yang tidak dapat dibandingkan satu sama lain.
Melalui Tegur Sapa, perbedaan perjalanan itu justru dirayakan. Pameran ini menghadirkan karya sebagai bentuk dialog antar pengalaman personal, sekaligus pengingat bahwa meskipun jalur yang ditempuh berbeda, akar kebersamaan tetap ada.
Pameran sebagai Ruang Reuni dan Dukungan Kolektif
Lebih dari sekadar presentasi karya, pameran bersama ini menjadi ruang untuk kembali berkumpul — saling mendukung dan menguatkan perjalanan artistik masing-masing. Atmosfer kebersamaan terasa sebagai inti dari pameran, menjadikan karya bukan hanya objek visual, tetapi juga medium komunikasi antar seniman dan pengunjung.
Judul “Tegur Sapa” sendiri merepresentasikan gestur sederhana namun bermakna: sebuah sapaan yang membuka kembali hubungan, percakapan, dan refleksi atas perjalanan yang telah dilalui bersama.
Pendekatan Kuratorial dan Momentum Pembukaan
Pameran ini dikuratori oleh Ananta D. Rahayu, yang menghadirkan pendekatan kuratorial berbasis narasi perjalanan dan perkembangan individu dalam konteks kolektif. Susunan karya memperlihatkan keberagaman pendekatan visual sekaligus mempertegas identitas artistik masing-masing peserta.
Opening ceremony dibuka oleh Bambang “Toko” Witjaksono, memberikan perspektif akademik sekaligus apresiasi terhadap proses panjang yang dilalui para seniman muda hingga mencapai fase akhir studi mereka.

Leave a Reply