
Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, para seniman dan masyarakat budaya berkumpul dalam kegiatan Nyadran Seniman bertajuk “Memetik Do’a, Merawat Budaya.” Kegiatan ini menjadi momentum reflektif yang menghubungkan spiritualitas, tradisi, dan praktik kebudayaan dalam satu ruang kebersamaan.
Bertempat di Galeri R.J. Katamsi, acara ini menghadirkan suasana khidmat sekaligus hangat, memperlihatkan bagaimana nilai budaya Jawa tetap hidup dan relevan di tengah dinamika kehidupan modern, khususnya dalam lingkungan seni.

Nyadran sebagai Tradisi dan Refleksi
Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur dan doa bersama menjelang Ramadhan. Dalam konteks Nyadran Seniman, tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi bagi para pelaku seni untuk kembali mengingat akar nilai dan perjalanan kreatif mereka.
Melalui doa, kebersamaan, dan simbol-simbol tradisi, kegiatan ini menghadirkan pengalaman spiritual yang memperkuat hubungan antara manusia, budaya, dan lingkungan sosialnya.
Seni dan Budaya yang Saling Menghidupi
Kehadiran para seniman dalam kegiatan nyadran menunjukkan bahwa praktik seni tidak berdiri terpisah dari kehidupan masyarakat. Seni justru tumbuh dari nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tema “Memetik Do’a, Merawat Budaya” menjadi pengingat bahwa merawat tradisi berarti juga menjaga identitas kolektif.
Ruang galeri berubah menjadi tempat pertemuan lintas generasi — tempat dialog antara spiritualitas, tradisi lokal, dan praktik seni kontemporer.

Menyambut Ramadhan dengan Kebersamaan
Momentum menjelang Ramadhan memberikan makna tambahan bagi kegiatan ini. Nyadran menjadi simbol pembersihan diri, baik secara batin maupun sosial, sebelum memasuki bulan suci. Kebersamaan yang terbangun memperlihatkan nilai gotong royong dan rasa saling menghargai yang masih kuat dalam komunitas seni di Yogyakarta.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas peran Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai ruang yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan seni, tetapi juga penjaga keberlanjutan budaya.

Leave a Reply