Babad Wikara
Babad adalah karya sastra Jawa yang berwujud sebuah narasi, yang di dalamnya merupakan hasil dari percampuran unsur sejarah, mitos, dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat secara turun menurun. Gubahan narasi tersebut kemudian mengikuti pakem tembang macapat. Sedangkan Wikara, diambil dari Bahasa Jawa Kuna yang merupakan serapan dari Bahasa Sanksekerta Vikara yang berarti perubahan bentuk, baik kondisi tubuh atau mental; penyimpangan dari keadaan alami. Melalui karya ini kami mencoba melihat kembali kebelakang tentang disabilitas direntang sejarah Jawa di masa lalu melalui metode narasi Babad. Diawali dengan riset kecil dalam beberapa literatur dan visualitas yang ada dalam berbagai artefak, hal ini kemudian malah mengarahkan kami untuk melihat lagi konteks disabilitas di masa silam. Disabilitas dalam sejarah Nusantara sebagai refleksi disabilitas di masa sekarang. Tentang peran, status sosial, dan relasi disabilitas dalam konteks masyarakat melalui lini masa sejarah Jawa yang sudah ada. Mulai dari masa kerajaan-kerajaan Pasca Medang/Mataram Kuno, Singasari, Majapahit, Demak, Mataram Islam hingga kolonial. Kami mendasarkan pada sumber data dan dokumentasi terutama sumber-sumber visual maupun tulisan dalam sastra kuno, prasasti, wayang, maupun relief candi. Kami juga berdiskusi dan membuat analisa-analisa dari materi tersebut. Pada tiap masa ini dilihat bagaimana peran dan posisi disabilitas dalam tatanan masyarakat kala itu. Ada beberapa sumber sastra dan visual yang muncul terutama dalam cerita Panji, pewayangan, dan kitab dari kerajaan Majapahit. Dalam setiap masa dijadikan acuan untuk memilih karakter/tokoh/figur disabilitas yang dijadikan sumber narasi dalam wujud tembang. Peran dan posisi mereka dalam tatanan masyarakat ini tergambarkan secara eksplisit dalam babad, kitab, pewayangan, suluk dan kisah-kisah cerita rakyat dan mitologi.
Berdasarkan hasil pembacaan materi yang ada maka dipilih 4 masa dengan karakter-karakter yang mewakili setiap zamannya. Di mulai dari karakter Bancak dan Doyok yang ada dalam Cerita Panji, sebagai disabilitas yang menjadi Abdi Dalem sekaligus pengawal dan penasihat Raden Panji Inu Kertapati, Pangeran dari Jenggala. Bancak dan Doyok tergambarkan dalam Wayang Beber, Wayang Gedog, dan Tari Topeng. Bancak dan Doyok memiliki di gambarkan memiliki beberapa kekurangan secara fisik, seperti mata, daksa, dan cebol. Namun begitu mereka menjadi tokoh penting dalam Kisah Panji ini. Setelah Bancak dan Doyok dari Masa Jenggala, selanjutnya yang kedua adalah karakter Sabda Palon, Naya Genggong yang dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi dikaitkan dengan Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir. Sabda Palon Naya Genggong juga adalah Abdi Dalem pada masa itu, tetapi bukan abdi dalem biasa melainkan juga penasihat, dan mampu membaca gejala alam. Sabda Palon dan Naya Genggong secara fisik juga mempunyai kekurangan persis seperti halnya Bancak dan Doyok. Ketiga adalah karakter Wujil yang diambil dari kisah dalam Suluk Wujil. Wujil adalah seorang bekas abdi dalem Maospati era Majapahit. Setelah Majapahit surut dan beralih ke Demak, Wujil kemudian ingin belajar ilmu kasampurnan pada Sunan Bonang. Wujil digambarkan sebagai seorang mini(cebol) tetapi mempunyai kemauan belajar yang kuat. Kisah keempat, dipilih dari Babad Diponegoro, memilih karakter Banteng Wareng. Banteng Wareng adalah abdi dalem, pengawal, dan pengikut Diponegoro yang setia dan kuat. Banteng Wareng menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan Diponegoro meskipun perawakannya mini. Semua kisah ini diceritakan dalam bentuk Babad yang diberi nama Babad Wikara. Babad
ini berisi 4 pupuh tembang macapat yang dilantunkan oleh Bpk. Robby Agus Widodo disabiltas netra dari Bantul, dan divisualisasikan dalam bentuk wayang beber oleh Kolektif Difa Kembang Selatan dari Wonosari yang beranggotakan Rofitasari Rahayu, Wiji Astuti, Puji Lestari, bersama pendamping Bernard Wora Wari dan Eri Saktiawan.
Representasi karakter disabilitas dalam pewayangan dipilih karakter Punakawan dan Sukrasana. Karakter tokoh Punakawan dilukis oleh Bapak Kusdono Rastika dari Cirebon. Punakawan gaya Cirebon berjumlah 9 orang, antara lain Semar, Gareng, Petruk/Cungkrin, Bagong, Bagal Buntung, Dawala, Curis/Sekarpandan, Bitarota, dan Ceblok. Sukrasana dilukis oleh Winda Karunaditha dari Bali.
Karya Batik dengan teknik karat atau rust karya Wiji Astuti dari Wonosari dikolaborasikan dengan puisi tentang hidup dan disabilitas karya I Kadek Agus dari Bali memberikan pesan tentang ketangguhan dan konsistensi berkarya bagi pelaku seni disabilitas di Indonesia.
Karya 3 dimensi yang mengangkat konsep rumah dan diri sebagai sesuatu yang sama, dikerjakan oleh Bapak Budi Mulya dari Jepara dan Nano Warsono. Dari rumah segalanya dibentuk dan dimulai, lingkungan terdekat adalah edukasi pertama tentang segala hal, termasuk edukasi tentang disabilitas dan saling peduli dan menolong.
Karya kolaborasi inklusif menggunakan panel-panel kayu, di kerjakan Sukri Budi Dharma ”Butong” menggambarkan dua Abdi Dalem Palawijan dalam pakaian adat Jawa laki-laki dan perempuan. Dibuat dengan ukuran besar untuk menunjukan citra yang “agung”. Karya panel lainnya adalah hasil kolaborasi dari Zakka N Giffani Hadi, Rofita Sari Rahayu, Edi Priyanto, Siam Artista, Herman Priyono, dan Syaiffudin Almajid yang merepresentasikan cerita dan pesan yang relevan tentang konteks disabilitas masa kini. Dari keseluruhan rangkaian narasi tentang disabilitas adalah pentingnya menempatkan posisi disabilitas dengan layak dan bermartabat. Dalam istilah Jawanya ‘’Nguwongke’’, dari situ kami menemukan quotes yang hampir sama dari Mbah Liem seorang Kyai Sepuh dari Klaten yaitu,’’Nguwongke Uwong Gawe Legane Liyan’’. Persoalan disabilitas yang kompleks perlu dimulai dengan menggugah kesadaran untuk memanusiakan manusia, ‘’Nguwongke Uwong ‘’ dulu.
Hasil karya bersama Nano Warsono (Yogyakarta) bekerjasama dengan Jogja Disability Arts (JDA) yang melibatkan Sukri Budi Dharma “Butong” (disabilitas daksa, Yogyakarta), Winda Karunadhita (disabilitas daksa, Bali), Kusdono Rastika (disabilitas daksa, Cirebon), Edi Priyanto (disabilitas daksa, Yogyakarta), Zakka Nurul Giffani Hadi (disabilitas tuli, Yogyakarta), Rofita sari Rahayu (disabilitas tuli, Yogyakarta), Wiji Astuti (disabilitas Daksa, Yogyakarta), Budi Mulya (disabilitas daksa, Jepara), Robby Agus Widodo (disabilitas Netra, Yogyakarta) dan I Kadek Agus (disabilitas Netra, Bali), Herman Priyono (Jombang, Jatim), Siam Artista (Yogyakarta), Syaifuddin Almajid (Yogyakarta), Bernard Wora Wari (Yogyakarta), Eri Saktiawan (Yogyakarta) . Karya meliputi karya seni rupa dua dimensi, tembang (audio), video, dan patung.





Leave a Reply