Pameran Seni Visual Seniman Wanita Indonesia dan Malaysia

Pameran Seni Visual Seniman Wanita Indonesia dan Malaysia

SYNERGI TO DIFINE GLORY 2021 “JUST ENOUGH”

.

Keseimbangan biosphere ada dalam bahaya, saat ini ada 3 titik kedaruratan yaitu: hilangnya keanekaragaman hayati, disrupsi iklim, dan polusi yang meningkat. Kita tinggal punya waktu satu dekade untuk menyelamatkan bumi dan umat manusia dari bencana (Laporan UNEP, 2021). Pada awal Juli 2021, dalam waktu kurang dari 2 minggu terjadi bencana banjir bandang di Rhineland – Palatinate Jerman, dan di Zhengzhou Cina, serta tanah longsor di Mumbai India dengan korban meninggal sampai ratusan orang. Bencana tersebut disebabkan oleh iklim yang berubah secara ekstrim. Perubahan iklim, polusi udara, sampah plastik, dan rusaknya terumbu karang adalah sejumlah bencana lingkungan yang disebabkan oleh tindakan brutal manusia terhadap alam. Lingkungan hidup yang rusak karena pembangunan yang semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi secara terus menerus, sudah cukup lama menggelisahkan dunia. Tahun 1987 PBB mulai menyusun global agenda for change, dengan konsep “Sustainable Development“.

Tahun 2015 agenda tersebut diperbaharui dengan Sustainable Development Goals (SDGs), mencantumkan sasaran-tujuan pembangunan berkelanjutan, dengan titik-berat pada aksi nyata untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan, serta perubahan iklim. Ada tiga pilar pembangunan dunia, yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan, serta 17 tujuan untuk dicapai pada tahun 2030. Pada pameran bersama kali ini, Just Enough, kita akan mencoba ikut serta mewujudkan 2 tujuan SDGs, yaitu tujuan ke-4 Pendidikan berkualitas (Quality education) dan tujuan ke-12 Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible consumption and production).

Just enough adalah sebuah pameran virtual diselenggarakan atas kerjasama antara Galeri Katamsi ISI Yogyakarta dengan Lakar Wanita dan Galeri Syah Alam UITM. Sebagai program kegiatan bersama di antara 2 institusi pendidikan tinggi seni maka termaktub jelas di dalamnya usaha untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman dalam berkarya seni rupa, serta mengadakan dialog untuk mengembangkan saling asah dan asuh diantara para staf pengajar dan mahasiswa ataupun alumninya, semua ini dilakukan demi mengembangkan kualitas pendidikan masing-masing institusi (Quality education).

Pada tujuan ke-12, bahwa produksi, distribusi, dan konsumsi merupakan penopang utama kehidupan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat modern, hal ini pun terkait langsung dengan isu permasalahan lingkungan hidup. Pembangunan yang berkelanjutan sangat membutuhkan pengurangan yang signifikan jejak ekologi dengan mengganti cara kita memproduksi dan mengkonsumsi barang-barang dan sumber daya alam. Riset ilmiah menunjukkan bahwa saat ini manusia di bumi telah memakai 1.6 kali sumber daya dari yang alam dapat sediakan secara berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan “produksi dan konsumsi secara bertanggung jawab”, industri, pemerintah dan masyarakat, perlu menjalankan praktik dan inovasi iptek dalam 3 sisi: pemanfaatan sumberdaya secara efisien, pencegahan dan pengurangan pencemaran ke lingkungan, serta meminimalkan risiko dampak kesehatan bagi konsumen dan masyarakat. Intinya adalah bagaimana hidup dengan hemat sumber daya alam, dan sampah serta tidak menimbulkan polusi.

Adalah penting di sini untuk memperhatikan bagaimana Seniman sebagai bagian dari masyarakat konsumen berinovasi dan  mempraktikan pilihan terhadap 3 hal tersebut, dalam berkarya. Di area inilah Seniman dapat bersikap, menunjukkan jati dirinya serta menyampaikan pesan moral melalui karya seninya, apakah dengan emosi keprihatinan, kesedihan, kemarahan ataupun kegetiran melihat praktik produksi dan konsumsi hedonik dan berlebihan saat ini. Atau dapat juga menunjukkan perasaan empati dan harapan yang lebih optimistik terhadap keberlanjutan bumi dan umat manusia dengan menunjukkan karya-karya yang just enough, yaitu hemat dan tidak polutif.

Isu lingkungan hidup dan sustainable development tidak hanya menjadi area yang prolific untuk mencari inspirasi, dan mengembangan imajinasi maupun ide dan pemikiran yang dapat diwujudkan secara baru dan kontemporer. Tetapi yang lebih penting lagi, area ini dapat menjadi lahan untuk menumbuhkan inovasi dalam berkarya. SDGs adalah agenda for change oleh karena itu inovasi dalam berkarya sangat diperlukan. Just enough memberi tempat bagi para seniman wanita menunjukkan pengetahuan, pengalaman, dan interest serta kapasitas berkesenian yang memihak kepada lingkungan dan utamanya kehematan terhadap SDA, dan sampah, serta tidak polutif terhadap lingkungan. Inovasi dapat diwujudkan dalam pilihan metoda & tehnik, pilihan bahan, pilihan tema maupun pilihan cara pengucapan.

Beberapa karya yang hadir dalam pameran ini, kelompok pertama adalah yang menyuarakan sikap prihatin terhadap kondisi lingkungan hidup saat ini.  Ekosistem yang rusak dan menyusut sehingga rubah, gajah, dan gurita harus hidup menderita dan menuju kepunahan, ditunjukkan dalam karya Devy Ika Nurjanah, kemudian derita bumi karena illegal logging dan seruan untuk stop perilaku hedonic disampaikan oleh Wiwik Sri Wulandari. Selanjutnya sebuah pesan menohok tentang keyakinan pada kekuatan diri perempuan dalam menjalani kehidupan ditunjukkan oleh Laksmi Shitaresmi lewat karya Irama Keseimbangan Hidupku. Kelompok kedua adalah seniman yang focus pada inovasi dalam berkarya ditunjukkan oleh Titiana Irawani dengan karya objek 3 dimensi berbahan found objects knalpot, dan kemudian Djanjang Purwosejati dengan karya batik berbasis pewarna alami, serta Ayu Arista Murti menyuarakan percakapan antara dirinya dengan alam serta mewujudkannya dalam karya multi media berbahan charcoal, sampah plastic, dan canvas on acrilycboard.

Saya meyakini bahwa pameran virtual, dan karya-karya yang terpajang di dalamnya menjadi penanda dari komitmen kita semua baik sebagai pribadi-pribadi, sebagai kelompok ataupun komunitas dan sebagai lembaga pendidikan tinggi seni, terhadap pentingnya SDGs. Bioshpere dan umat manusia harus tetap hidup berkelanjutan, dan untuk itu membutuhkan tindakan nyata dari kita semua dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan terutama dalam tindakan berkarya seni, secara Just Enough.

Yogyakarta, 10 September 2021

Dr. Suastiwi, M.Des

Leave a Reply

Your email address will not be published.